Setiap awal pasti ada akhir. Ramadhan yang kita rindukan kedatangannya pun telah datang, namun kedatangannya pun akan segera berakhir dengan kepergian.
Menangislah untuk Ramadhan yang akan hilang … Menangislah, jika itu bisa melapangkan gundah yang mengganjal sanubari. Jika itu adalah ungkapan penyesalan bahwa Ramadhan sudah akan bergegas pergi, tinggal menghitung hari, Tapi rasanya baru kemarin kita bertekad untuk menyempurnakan tarawih dan qiyamul lail, iya baru kemarin.
Menangislah karena ALLAH tak menjanjikan apa-apa untuk Ramadhan tahun depan, apakah kita masih diikutsertakan pada Ramadhan tahun depan atau telah tertidur dibawah tumpukan tanah, sedangkan Ramadhan kali ini hanya tersisa beberapa jam saja, tersadar bahwa Ramadhan kali ini tersia-siakan. Menangislah untuk Ramadhan yang kan hilang. Biar butir bening itu jadi saksi penyesalan.