Rasanya masih sulit dipercaya bahwa kita berdua berada pada titik ini, sedang membicarakan semua yang pernah kita lakukan. Tingkah lakumu pun dapat kubaca dengan jelas, hela nafas yang begitu berat seolah menandakan bahwa semua ini terasa begitu tak bermakna. Aku tahu kau begitu ingin cepat berlalu dari hadapanku. Namun setidaknya dengarkanlah permintaanku meskipun itu hanya pura-pura bagimu.
Aku ingin kamu tetap di sini. Temani aku hingga malam berganti. Jangan tinggalkan aku. Tidakkah kau tahu betapa membutuhkannya aku akan dirimu saat ini? Bukannya aku memaksamu untuk selalu di sisi, namun aku tak pernah begitu mencintai wanita sedalam ini. Perpisahan kita hanya menyisakan beberapa goresan yang makin terasa perih dan nyeri setiap kali aku merasa letih.
Dapatkah kau berusaha untuk mengingat kembali bagaimana kita saling terkait? Kuharap memori itu masih dengan jelas mengisi hati
Tuesday, 9 February 2016
Curhat-Curhat,
Fiction,
Other
0
comments
Bisakah Jika Kuminta Agar Kau Tetap Di Sini?
“Kadang kita harus berhenti sejenak dan berfikir kalau kita tidak boleh egois dan merelakan mereka dengan cara yang logis”
Selamat malam sayang,
Ini surat terakhir yang aku tujukan padamu.
Surat terakhir bertanda aku mengibarkan bendera putih untuk memperjuangkan kamu.
Bukankah merpati pasti kembali pulang kerumah asalnya? Ah sudahlah, aku tidak ingin menyakiti diri sendiri dengan percaya bahwa kamu adalah merpatiku.
Bagaimana jika kita dipertemukan lagi? Ah sudahlah, lagi lagi aku tidak ingin berharap. Percayakan jawabannya pada Tuhan melalui waktu.
Selamat malam sayang,
Ini surat terakhir yang aku tujukan padamu.
Surat terakhir bertanda aku mengibarkan bendera putih untuk memperjuangkan kamu.
Bukankah merpati pasti kembali pulang kerumah asalnya? Ah sudahlah, aku tidak ingin menyakiti diri sendiri dengan percaya bahwa kamu adalah merpatiku.
Bagaimana jika kita dipertemukan lagi? Ah sudahlah, lagi lagi aku tidak ingin berharap. Percayakan jawabannya pada Tuhan melalui waktu.
Subscribe to:
Posts (Atom)

